Sabtu, 18 Februari 2012

Jalan-jalan ke Bukittinggi

Refresingh bersama rekan dan keluarga jalan-jalan ke Bukittinggi Sumatra Barat ke Jam Gadang. Alhamdulillah.

Sabtu, 11 Februari 2012

Evaluasi Program dan Program Manajemen Pendidikan

I. PENDAHULUAN
Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu. Dalam bidang pendidikan banyak sekali program yang sedang dan sudah dilaksanakan.
Agar program itu dapat berjalan dengan baik perlu diatur dan dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan dan pengawasan. Kegiatan ini terkait dengan kegiatan manajemen dimana manajemen ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Yang di maksud sumber disini mencakup orang-orang, alat-alat, media bahan-bahan, uang, sarana dan prasarana semuanya diarahkan dan di koordinasi untuk mencapai tujuan. Kemudian diadakan evaluasi program sebagai upaya untuk mengetahui evektifitas komponen program dalam mendukung pencapaian tujuan program. Setiap kegiatan yang merupakan realisasi dari suatu kebijakan harus dirancang dengan cermat dan teliti, supaya tujuan yang sudah ditetapkan dalam kebijakan dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.
Evaluasi terhadap program pendidikan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau kegagalan suatu program pendidikan dan hasil evaluasi dapat dijadikan informasi sebagai masukan untuk menentukan tindak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan.
Dalam makalah ini kami akan membahas beberapa hal yang terkait dengan evaluasi program dan manajemen program pendidikan.





II. PEMBAHASAN

A. Hakekat Program dan Evaluasi Program Pendidikan
1. Pengertian Program dan Evaluasi Program
Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
Program merupakan satu kesatuan dari beberapa bagian atau komponen yang saling berkait untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh sistem tersebut. Komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Masing-masing komponen terdiri atas beberapa subkomponen dan masing-masng subkomponen terdapat beberapa indikator.
Evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Evaluasi program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang bertujuan mengumpulkan informasi tentang realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang guna pengambilan keputusan.
Dalam eveluasi program, pelaksana evaluasi (evaluator) ingin mengetahui seberapa tinggi mutu atau kondisi sesuatu sebagai hasil pelaksanaan program, setelah data terkumpul dibandingkan dengan kriteria atau standar tertentu. Dalam evaluasi program, pelaksana (evaluator) ingin mengatahui tingkat ketercapaian program, dan apabila tujuan belum tercapai pelaksana (evaluator) ingin mengetahui letak kekurangan dan sebabnya. Hasilnya digunakan untuk menentukan tindak lanjut atau keputusan yang akan diambil.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka hakikat program dan evaluasi program adalah bahwa program merupakan suatu rencana yang melibatkan berbagai unit yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk diimplementasikan di lapangan. Sedangkan evaluasi program bertujuan untuk mengumpulkan informasi berkenaan dengan implementasi program yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan tindak lanjut atau pengambilan keputusan.
Dalam kegiatan evaluasi program, indikator merupakan petunjuk untuk mengetahui keberhasilan atau ketidakberhasilan suatu kegiatan. Perlu diketahui bahwa ketidakberhasilan suatu kegiatan dapat juga dipengaruhi oleh komponen atau subkomponen yang lain.
Evaluasi program pendidikan adalah suatu proses yang secara langsung terfokus pada penentuan nilai, hasil guna, dan kebaikan-kebaikan dari program, proyek, materi, dan teknik-teknik pendidikan (Borg & Gall, 1983: 733) atau Evaluasi yang menilai aktivitas-aktivitas pendidikan yang menyediakan layanan berkelanjutan serta selalu mencakup masukan-masukan kurikuler (Joint Committee, 1981:2)
Dalam bidang pendidikan ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas, khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar peserta didik. Pencapaian belajar ini bukan hanya yang bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada peserta didik. Jadi sasaran evaluasi mikro adalah program pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah guru untuk sekolah atau dosen untuk perguruan tinggi (Djemari Mardapi. 2000: 2).
Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, tetapi juga perlu penilaian terhadap input, output maupun kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Optimalisasi sistem evaluasi menurut Djemari Mardapi (2003: 12) memiliki dua makna, pertama adalah sistem evaluasi yang memberikan informasi yang optimal. Kedua adalah manfaat yang dicapai dari evaluasi. Manfaat yang utama dari evaluasi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan selanjutnya akan terjadi peningkatan kualitas pendidikan.
Ciri dan persyaratan evaluasi program adalah sebagai berikut : a) mengacu pada kaidah yang berlaku, b) memiliki kriteria sebagai penentuan nilai untuk mengetahui apakah program berhasil atau gagal, c) ada perbandingan antara kriteria dengan yang telah ditentukan dengan kenyataan yang ada dilapangan, d) dilakukan secara sistematis, e) menggunakan tolok ukur baku, dan f) hasil evaluasi dapat digunakan sebagai tindak lanjut atau pengambilan keputusan.

2. Tujuan dan manfaat evaluasi Program
Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui pencapaian tujuan program yang telah dilaksanakan. Selanjutnya, hasil evaluasi program digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan tindak lanjut atau untuk melakukan pengambilan keputusan berikutnya.
Evaluasi sama artinya dengan kegiatan supervisi. Kegiatan evaluasi/supervisi dimaksudkan untuk mengambil keputusan atau melakukan tindak lanjut dari program yang telah dilaksanakan. Manfaat dari evaluasi program dapat berupa penghentian program, merevisi program, melanjutkan program, dan menyebarluaskan program.



3. Evaluator dan Kriteria dalam Evaluasi Program
Evaluator program adalah orang yang melakukan kegiatan evaluasi dalam suatu program, evaluator harus orang-orang yang memiliki kompetensi yang mumpuni, di antaranya mampu melaksanakan, cermat, objektif, sabar dan tekun, serta hati-hati dan bertanggung jawab. Evaluator dapat berasal dari kalangan internal (evaluator dan pelaksana program) dan kalangana eksternal (orang di luar pelaksana program tetapi orang yang terkait dengan kebijakan dan implementasi program). Kriteria diartikan sebagai patokan yang digunakan sebagai ukuran atau tolok ukur. Dalam evaluasi program, kriteria digunakan untuk mengukur ketercapaian suatu program berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan.
Dalam melaksanakan evaluasi suatu program seorang evaluator bekerja berdasarkan criteria yang sudah ditentukan sebelumnya dalam melakukan sebuah evaluasi. Kriteria diartikan sebagai patokan yang digunakan sebagai ukuran atau tolok ukur. Dalam evaluasi program, kriteria digunakan untuk mengukur ketercapaian suatu program berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan.
Kriteria disusun sebagai pedoman evaluator dalam melaksakan evaluasi program. Tujuan disusunnya criteria agar evaluator menjadi lebih mantap karena ada patokan, dapat digunakan sebagai bukti pertanggungjawaban dari hasil evaluasi, untuk menghindari subjektivitas evaluator, dan hasil evaluasi sama walaupun evaluator berbeda.
Penyusun kriteria adalah calon-calon evaluator. Hal ini mengingat merekalah orang-orang yang memahami tentang program yang akan dievaluasi. Dasar penyusunan kriteria adalah, peraturan atau ketetentuan yang melatarbelakangi dikeluarkannya program, pedoman pelaksanaan program, dokumen dan sumber-sumber ilmiah yang umum digunakan, hasil penelitian yang relevan, petunjuk atau pertimbangan ahli evaluasi, tim evaluator, evaluator sendiri dengan menggunakan daya nalar dan kemampuan yang dimilikinya.
Wujud kriteria berupa tingkatan atau gradasi kondisi sesuatu yang dapat ditransfer menjadi nilai. Wujud kriteria berupa kriteria kuantitatif (angka-angka) dan kriteria kualitatif (menghitung jumlah indikator yang telah tercapai).
Kriteria kuantitatif dibedakan menjadi dua, yaitu (1) tanpa pertimbangan, yaitu membagi rentangan (mis. 10-100) dalam kategaori secara sama, dan (2) banyaknya rentangan dalam tiap kategori tidak sama karena petimbangan tertentu. Kriteria kualitatif dibedakan menjadi dua, yaitu (1) kriteria kualitatif tanpa pertimbangan, yaitu menghitung jumlah indikator yang telah memenuhi persyaratan, dan (2) kriteria kualitatif dengan pertimbangan, yaitu dengan cara menghitung indikator yang telah memenuhi persyaratan dengan mempertimbangkan skala prioritas atau pembobotan.
B. Model dan Rancangan Evaluasi Program
Kaufan dan Thomas dalam Suharsimi membedakan model evluasi program menjadi delapan, yaitu:
1. Goal Oriented Eavaluation Model
Objek pengamatan model ini adalah tujuan dari program. Evaluasi dilaksanakan berkesinambungan, terus-menerus untuk mengetahui ketercapaian pelaksanaan program.
2. Goal Free Eavaluation Model
Dalam melaksanakan evaluasi tidak memperhatikan tujuan khusus program, melainkan bagaimana terlaksananya program dan mencatat hal-hal yang positif maupun negatif.
3. Formatif Summatif Evaluation Model
Model evaluasi ini dilaksanakan ketika program masih berjalan (evaluasi formatif) dan ketika program sudah selesai (evaluasi sumatif).
4. Countenance Evaluation Model
Model ini juga disebut model evaluasi pertimbangan. Maksudnya evaluator mempertimbangkan program dengan memperbandingkan kondisi hasil evaluasi program dengan yang terjadi di program lain, dengan objek ssaran yang sama dan membandingkan kondisi hasil pelaksanaan program dengan standar yang ditentukan oleh program tersebut.
5. Responsif Evaluation Model
Model Evaluasi Responsif Evaluasi adalah untuk memberikan layanan kepada klien, membuat pernyataan komprehensif tentang program apa yang menjadi dan tentang kepuasan dan ketidakpuasan yang tepat memilih orang-orang rasakan terhadap program.
6. SSE-UCLA Evaluation Model
Model ini meliputi empat tahap, yaitu
a. Needs assessment, memusatkan pada penentuan masalah hal-hal yang perlu dipetimbangkan dalam program, kebutuhan uang dibutuhkan oleh program, dan tujuan yang dapat dicapai.
b. Program planning, perencanaan program dievaluasi untuk mengetahui program disusun sesuai analisis kebutuhan atau tidak.
c. Formative evaluation, evaluasi dilakukan pada saat program berjalan.
d. Summative program, evaluasi untuk mengetahui hasil dan dampak dari program serta untuk mengetahui ketercapaian program.
7. CIPP Evaluation Model (Context Input Process Product)
CIPP berorientasi perbaikan Context: lingkungan di mana program berlangsung (termasuk kondisi institusional, target populasi dan . kebutuhan, kesempatan dan masalah yang mendasari kebutuhan. Input: kemampuan sistem (internal dan eksternal sumber daya, strategi dan prosedur alternatif desain) Process: pelaksanaan (identifikasi, memprediksi dan pemantauan untuk potensi masalah, merekam dan menilai acara acara dan kegiatan) Products: menafsirkan nilai dan manfaat dari hasil (deskripsi dan penilaian dari hasil
a. Evaluasi Konteks
Evaluasi konteks adalah evaluasi terhadap kebutuhan, tujuan pernenuhan dan karakteristik individu yang menangani. Seorang evaluator harus sanggup menentukan prioritas kebutuhan dan memilih tujuan yang paling menunjang kesuksesan program.
b. Evaluasi Masukan
Evaluasi masukan mempertimbangkan kemampuan awal atau kondisi awal yang dimiliki oleh institusi untuk melaksanakan sebuah program.
c. Evaluasi Proses
Evaluasi proses diarahkan pada sejauh mana program dilakukan dan sudah terlaksana sesuai dengan rencana.
d. Evaluasi Hasil
Ini merupakan tahap akhir evaluasi dan akan diketahui ketercapaian tujuan, kesesuaian proses dengan pencapaian tujuan, dan ketepatan tindakan yang diberikan, dan dampak dari program.
8. Discrepancy Model
Model ini ditekankan untuk mengetahui kesenjangan yang terjadi pada setiap komponen program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standar yang sudah ditentukan dalam program dengan penampilan aktual dari program tersebut.




C. Manajemen Evaluasi Program
Manajemen ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Yang di maksud sumber disini mencakup orang-orang, alat-alat, media bahan-bahan, uang, sarana dan prasarana semuanya diarahkan dan di koordinasi untuk mencapai tujuan.
Fungsi-fungsi manajemen telah di kemukan oleh para sarjana yang dikutip oleh M. Manulang dalam karyanya yang berjudul Dasar-dasar manajemen. Diantaranya:
a. Laous A. Allan : leading, Organising, Planning, Controling.
b. Prajudi Atmosudarjo: Planning, Organising, Motivating, Actuating, Controling.
c. Winardi SE. : Planning, Organising, Coordinating, Actuating, leading, Comonikating, controlling.
Pada hakekatnya bila dikombinasikan dari ketiga sarjana tersebut diatas, maka fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut:
1. Planning. 5. Motivating.
2. Organising. 6. Leading.
3. Actuating 7. Comonikating
4. Coordinating 8. Controling.
Dari beberapa fungsi manajemen tersebut maka dalam pengembangan prosesionalitas dan sumber daya kami batasi pada sebagian fungsi manajamen sebagai berikut;
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Koordinasi.
d. Komunikasi.
e. Pengawasan.
Setelah beberapa pengertian dan pembatasan fungsi manajerial jelas ditetapkan, maka yang dimaksud dengan Manajemen evaluasi program adalah tindakan manajerial dalam sebuah program evaluasi yang meliputi; perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, komonikasi, dan pengawasan, sehingga dapat dan mampu untuk mengembangkan profesioanalisme sumber daya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, sesuai dengan kebutuhan.
Untuk lebih jelasnya penulis uraikan dari masing-masig tindakan manajerial dalam rangka manajemen program tersebut sebagai mana yang dimaksud adalah sebagai berikut;
a. Perencanaan
Umum dilakukan oleh setiap orang yang berakal normal dalam melakukan suatu kegiatan apapun saja, pasti diawali dengan perencanaan atau yang dikenal dalam pengertian yang lain adanya niat yang sempurna. Apabila kegiatan itu timbul dari inisiatip sendiri itu adalah merupakan langkah awal dari suatu kegiatan seseorang atau organisasi untuk mencapai tujuan yang di harapkan.
Perencanaan didalam menajemen pengembangan profesionalitas sumberdaya sangat diperlukan, baik didalam menyelesaikan tugas maupun sebagai alat yang dapat membantu untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Dan dengan adanya suatu perencanaan yang matang serta disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, dapat di jadikan pedoman bagi pelaksanaan di dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Sebab apabila didalam melakukan suatu pekerjaan tanpa diawali perencanaan yang matang maka pekerjaan itu tidak dapat diselesaikan dengan optimal dan efesien.
Pandangan diatas diperkuat oleh pendapat Q.U. Efendy beliau menyatakan bahwa “plaining atau perencanaan adalah aktivitas menetapkan tujuan dan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan”. Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perencanaan adalah merupakan rangkaian kegiatan secara teratur yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu.
Suatu perencanaan dalam sebuah menajeman baik berupa organisasi kecil atau besar, harus diatur dengan baik, serta harus memenuhi unsur-unsur yang harus ada didalam suatu perencanaan diantaranya:
1) What : Apa yang akan dikerjakan. Ini menyangkut tujuan
2) Where : Dimana akan dikerjakan, ini menyangkut lokasi karenanya harus dipertimbangkan dengan tepat.
3) How : Bagaimana cara mengerjakan, ini berhubungan dengan tata cara melaksanakan kegiatan.
4) Who : Siapa yang mengerjakan, hal ini berhubungan dengan orang yang melaksakan.
5) When : Kapan dikerjakan, ini menyangkut masalah waktu pelaksanaan.
6) Why : Mengapa dikerjakan, ini menyangkut kegunaan manfaat dan kegiatan.
Apabila unsur-unsur tersebut telah dapat dipakai sebagai pedoman dalam perencanaan pelaksanaan tugas, maka pekerjaan akan dapat diselesaikan dengan sempurna.
b. Pengorganisasian.
Didalam manajemen suatu organisasi atau perkumpulan baik itu berupa pengembangan profesionalisme guru atau yang lainnya, tidak dapat dikerjakan oleh satu orang saja, tetapi harus dikerjakan secara bekerja sama diantara anggota-anggota kelompok sehingga dengan demikian maka diperlukan pembagian tugas atau yang disebut sebagai pengorganisasian untuk mencapai tujuan bersama.
Dengan demikian maka organisasi merupakan suatu wadah bagi manusia atau kelompok manusia untuk melakukan kegiatan dalam mencapai tujuan bersama. Sedangkan dalam sebuah kelompok organisasi diperlukan atau harus adanya pemimpim dan yang dipimpin dalam melakukan kegiatannya. S.P. Siagian mengatakan: “Pengorganisasian adalah keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas, tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan”,
Sehingga pengorganisasian adalah penyusunan dan pembagian tugas kepada masing-masing anggota didalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan sebelumnya.
c. Koordinasi.
Koordinasi adalah merupakan fungsi manajeman yang dijalankan oleh seorang pimpinan. Koordinasi yang dimaksud adalah sebagai usaha menyatukan kegiatan-kegiatan dari satuan-satuan kerja (unit) organisasi bergerak sebagai kesatuan yang bulat guna melaksanakn sekuruh tugas organisasi untuk mencapai tujuan
d. Komunikasi.
Komunikasi adalah merupakan suatu proses penyampaian imformasi dari seseorang kepada orang lain. Atau juga dapat dikatakan komunikasi adalah merupakan proses penyampaian berita dari suatu sumber berita kesuatu tenpat tujuan.
e. Pengawasan
Pengawasan merupakan salah satu fungsi yang terakhir dari manajemen yang harus dilakukan oleh atasan atau pimpinan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Pengawasan ini mempuyai fungsi untuk mengetahui apakah pelaksanaan kerja sesuai dengan rencana atau tidak, disamping itu juga untuk mencegah terjadinya penyimpangan.
Manajemen ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber untuk menyelesaikan suatu tujuan. Yang di maksud sumber disini mencakup orang-orang, alat-alat, media bahan-bahan, uang, sarana dan prasarana semuanya diarahkan dan di koordinasi untuk mencapai tujuan.
Dalam setiap kegiatan manajemen akan dikatakan sempurna jika dalam prosesnya dilaksanakan suatu evaluasi, tidak terkecuali dalam manajemen pendidikan. Program pendidikan sebagai penjabaran dari perencanan pendidikan harus dievaluasi dengan saksama, menggunakan strategi yang tepat sehingga hasilnya dapat di pertanggungjawabkan.


















Daftar Rujukan
Arikunto, Suharsini dan Safruddin, Cepi. 2004. Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
http://anan-nur.blogspot.com/2012/01/evaluasi-program-pendidikan-prof-dr.html Diakses tanggal 3 Pebruari 2012

http://www.umpwr.ac.id/web/download/publikasi-ilmiah/Evaluasi%20Program%20Pembelajaran.pdf Diakses tanggal 3 Pebruari 2012

http://hadirukiyah2.blogspot.com/2009/09/evaluasi-program-manajemen-pengembangan.html Diakses tanggal 3 Pebrua

Mu’man Nuryana, MSc, Phd, Program Evaluation, makalah

Sabtu, 31 Desember 2011

Selamat Tahun Baru 2012

hari berganti
bulan berganti
tahun pun berganti
tahun baru harapan baru
tetap semangat
masa lalu adalah kenangan
hari ini adalah goresan
hari esok adalah harapan
selamat tahun baru 2012
selamat tinggal kenangan
selamat datang harapan
Semoga ditahun baru 2012
Hidup kita lebih baik
lebih sukses
Selalu mendapat berkah dari ALLAh SWT

Rabu, 14 Desember 2011

PEDEKATAN DALAM DESAIN PESAN PEMBELAJARAN

A. Pendekatan dalam Desain Pembelajaran
Dalam desain pesan pembelajaran berbentuk bahan ajar, materi pelajaran yang akan disampaikan sebagai pesan mempunyai arti penting karena pencapaian tujuan yang ditetapkan terinci dan pencapaiannya ada pada materi pembelajaran.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI adalah Jakart; Negara RI merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945). Termasuk materi konsep adalah pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah tempat duduk berkaki empat, ada sandaran dan lengan-lengannya).
Termasuk materi prinsip adalah dalil, rumus, adagium, postulat, teorema, atau hubungan antar konsep yang menggambarkan “jika..maka….”, misalnya “Jika logam dipanasi maka akan memuai”, rumus menghitung luas bujur sangkar adalah sisi kali sisi.
Materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan dengan langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu tugas. Misalnya langkah-langkah mengoperasikan peralatan mikroskop, cara menyetel televisi. Materi jenis sikap (afektif) adalah materi yang berkenaan dengan sikap atau nilai, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar, semangat bekerja, dsb.
Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya materi operasi bilangan penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Siswa akan mengalami kesulitan mempelajari perkalian jika materi penjumlahan belum dipelajari. Siswa akan mengalami kesulitan membagi jika materi pengurangan belum dipelajari.
Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui beberapa pendekatan diantaranya pendekatan kronologis, kausal, structural, logis dan psikologis, spiral dan hierarkis. Yang akan dibahas dalam materi ini adalah pendekatan logis dan psikologis, spiral dan hierarkis.

1. Pendekatan Logis dan Psikologis
Materi bahan ajar dapat disusun berdasarkan pendekatan logis. Maksud logis ialah pertama bahwa materi ajar yang disusun cukup logis bagi peserta didik yang menerima pesan dalam bahan ajar tersebut. Kedua bahwa bahan ajar yang disusun dimulai dari bagian menuju keseluruhan, sederhana menuju yang komplek, nyata ke abstrak, dan dari bagaimana menjadi mengapa.
Pendekatan pembelajaran harus menekankan kepada proses dan ketrampilan yang sesuai dengan materi pembelajaran. Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan belajar peserta didik.
Pendekatan psikologis dalam menyusun bahan ajar dimulai dari keseluruhan kepada bagian, dari yang kompleks ke sederhana. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip-prinsip psikologi, dimana individu memproses pengatahuan dan memperoleh pemahaman berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan dan pembelajaran.
Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik, dimana proses penalaran dapat terjadi. Ide-ide serta pengalaman digunakan untuk mentransformasikan konsep dan pembelajaran kompleks menjadi operasi mental yang sesuai dengan peserta didik.

2. Pendekatan spiral
Pendekatan ini dikembangkan oleh Bruner, bahan ajar dipusatkan pada topic atau pokok bahasan tertentu. Dari topic atau pokok bahasan tersebut bahan diperluas dan diperdalam. Topik atau bahan ajar tersebut adalah sesuatu yang popular dan sederhana, tetapi kemudian diperluas dan diperdalam dengan bahan yang lebih kompleks.
Menurut Bruner, belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung secara bersamaan, yaitu :
a. Memperoleh informasi baru
Informasi baru merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang.
b. Transformasi informasi
Informasi yang diperoleh kemudian dianalisis atau ditransformasikan kedalam bentuk yang lebih nyata atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih lugas.
c. Evaluasi
Merupakan proses relevansi dan ketepatan pengetahuan. Proses ini dilakukan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan tersebut cocok atau sesuai dengan prosedur yang ada.
Pendewasaan pertumbuhan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang menurut Bruner adalah sebagai berikut :
a. Pertumbuhan intelektual ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respon dari sifat stimulus.
b. Pertumbuhan intelektual tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasikan peristiwa-peristiwa menjadi suatu system penyimpanan (storage system) yang sesuai dengan lingkungan.
c. Pertumbuhan intelektual yang menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk berkata pada dirinya sendiri atau pada orang lain, dengan pertolongan kata-kata dan simbol-simbol apa yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak perlu ditunggu sampai akan mencapai suatu tahap perkembangan tertentu. Perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan cara mengatur bahan yang akan diberikan, diatur dengan baik maka anak dapat belajar meskipun dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan ini dikenal dengan pendekatan spiral.
Pada pendekatan ini bahan ajar yang dirancang atau disusun berisikan materi yang berhubungan dengan materi-materi lain yang terjandung didalamnya. Hal ini menyebabkan materi akan dapat lebih dari satu kali atau bahkan berulangkali disampaikan.
Dengan menggunakan pendekatan spiral adalah materi yang dituangkan dalam kurikulum tersebut dimulai dari lingkungan yang dekat dan lebih sempit menuju kepada lingkungan yang lebih jauh dan luas serta makin lama makin mendalam sehingga materi pelajaran yang telah diberikan guru kepada siswa benar-benar menjadi milik siswa dan tahan lama dalam benak anak, karena adanya pengulangan materi dan memiliki kaitan yang logis antara materi pelajaran yang telah diberikan sebelumnya dengan materi yang disajikan. Pendekatan kurikulum seperti ini sangat mementingkan apresiasi sebelum pembelajaran dimulai, yaitu mengaitkan yang lalu dengan materi yang akan diberikan.

3. Pendekatan Hierarki
Pendekatan ini dikembangkan oleh Robert Gagne (1965), dengan prosedur sebagai berikut : tujuan-tujuan khusus pembelajaran dianalisis, kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.Hierarki tersebut menggambarkan urutan kemampuan bawahan apa yang mula-mula harus dikuasai oleh siswa, berturut-turut sampai pada kemampuan bawahan terakhir.
Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
Contoh : Urutan Hierarkis (berjenjang)
Soal ceritera tentang perhitungan laba rugi dalam jual beli Agar siswa mampu menghitung laba atau rugi dalam jual beli (penerapan rumus/dalil), siswa terlebih dahulu harus mempelajari konsep/ pengertian laba, rugi, penjualan, pembelian, modal dasar (penguasaan konsep). Setelah itu siswa perlu mempelajari rumus/dalil menghitung laba, dan rugi (penguasaan dalil). Selanjutnya siswa menerapkan dalil atau prinsip jual beli (penguasaan penerapan dalil).




Contoh lain tentang urutan operasi bilangan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.Contoh Urutan Materi pembelajaran Secara Hierarkis
Kompetensi dasar Urutan Materi
1. Mengoperasikan bilangan 1.1. Penjumlahan
1.2. Pengurangan
1.3. Perkalian
1.4. Pembagian

Suatu proses pembelajaran dapat berhasil dengan baik kalau proses situ secara nyata sudah tumbuh dalam diri peserta didik. Oleh karena itu sikap lebih wajar adalah menempatkan kegiatan belajar itu sendiri sebagai kegiatan sentral (Surakhmad, 1982).
Penguasaan terhadap suatu tahapan atau pengetahuan awal akan membuat proses belajar mengajar untuk materi selanjutnya akan lebih berarti. Intinya bahwa suatu yang baru haruslah dipelajari berdasarkan apa yang telah dimiliki oleh peserta didik. Pengalaman-pengalaman belajar yang baru tersebut harus disajikan dengan cara diorganisasikan terlebih dahulu dengan cara efektif dan sistematis.
Jadi pendekatan yang tepat dalam menyusun bahan ajar dalam desain pesan pembelajaran akan membantu pengguna bahan ajar untuk memahami materi yang disampaikan. Pendekatan desain dalam hal ini pendekatan dalam menyusun bahan ajar dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang dalam penyusunan bahan ajar.

Sabtu, 05 November 2011

Adab Pendidik (Guru)


ADAB PENDIDIK
“Menjual Pedang Kepada Perampok”
Perumpamaan yang diberikan oleh Imam Al Ghazali terhadap Guru yang mencelakakan muridnya, karena member ilmu yang tidak bermanfaat dan akhirnya Guru dan murid sama-sama celaka. Itulah sebabnya seorang Guru harus mempunyai sifat-sifat tertentu agar menjadi Guru yang Ideal. Sifat itu diantaranya :
a.     SAYANG TERHADAP MURIDNYA
Guru dalam memperlakukan muridnya hendaknya seperti memperlakukan anaknya sendiri, sebagaimana Rosululloh memposisikan diri terhadap umatnya. Sesungguhnya aku bagi kalian seperti ayah terhadap anakny”. (Riwayat Abu Dawud). Siapa saja yang menuntut ilmu kepada Beliau dianggap sebagai anaknya sendiri, dan selalu memanggil mereka dengan sebutan “anak-anakku”
b.     CUKUP BALASAN ALLOH SWT
Para Guru hendaknya tidak mengharap balasan dari muridnya, akan tetapi mengajar karena mencari ridha Alloh SWT. “Wahai kaumku, aku tidak meminta imbalan atas ha (sesuatu)l. Sesungguhnya imbalanku hanya karena Allah….” (Hud(11): 51).
c.     SELALU MEMBERIKAN NASIHAT
Sifat Guru yang baik tidak hanya mampu menyampaikan materi ajar kepada  muridnya, namun juga harus selalu memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada anak didiknya, sehingga ilmu pengetahuan yang dapat diserap akan bisa member manfaat kebaikan kelak.
d.     BIJAK MEMPERINGATKAN KESALAHAN
Ketika akan didik melakukan kesalahan/perbuatan tercela, Guru hendaknya mengingatkannya dengan bijak, tidak malah merendahkannya. Sebab jika guru menempuh cara itu, maka kewibawaannya akan bisa jatuh dihadapan siswa.
e.     TIDAK MERENDAHKAN ILMU LAIN
Yang harus dihindari oleh guru adalah mencela ilmu yang lain bukan bidangnya. Guru semestinya malah memberikan motivasi kepada muridnya agar memperluas pengetahuannya. Bahkan jika guru menguasai banyak disiplin ilmu, maka hendaknya ia mengajarkannya kepada muridnya secara bertahap.
f.       MENGATAHUI KEMAMPUAN MURIDNYA
Hal yang sangat penting adalah guru harus mengetahui dan memahami seberapa besar kadar ilmu yang bisa diterima muridnya. Guru juga harus dituntut berusaha semaksimal mungkin untuk memahamkan ilmu kepada muridnya dengan berbagai metode hingga penjelasannya mudah dipahami murid.
g.     MENGAMALKAN ILMU
Selain mengajarkan ilmu, guru juga dituntut mengamalkan ilmunya. Jangan sampai perkataannya sendiri “diingkari” oleh perbuatannya sendiri dengan tidak mengamalkannya. Dikutip dari Edisi Khusus Suara Hidayatullah.

Rabu, 02 November 2011

Proses Kognitif dan Prinsip Multimedia


PROSES KOGNITIF DAN PRINSIP MULTIMEDIA


1.1         Proses Kognitif

1.1.1   Kajian Teori Multimedia
Teori belajar Kognitif yang berakar pada teori pemrosesan informasi merupakan landasan dari pengembangan multimedia. Cognitive Load Theory (CLT) yang dikemukankan oleh Sweller pada tahun 1988 adalah penjabaran lebih detil dari teori belajar kognitif yang secara khusus menekankan pada keterbatasan kapasitas working memory. Disamping dual chanel input, dan active processing. CLT telah digunakan untuk mendeskripsikan bangun kognisi manusia dan menjadi acuan dalam desain pembelajaran. Secara khusus, teori ini memberikan basis acuan empiris yang membantu desainer pembelajaran untuk mengurangi beban kognitif selama mengajar. Metode pembelajaran yang membebani secara berlebihan working memory menyebabkan belajar menjadi lebih sulit.
CLT membedakan beban kognitif menjadi tiga jenis yaitu: intrinsic cognitive laod, extraneous cognitive load, dan germane cognitive load. Intrinsic cognitive load adalah tingkat kesulitan yang melekat terkait dengan bahan instruksional. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Chandler dan Sweller. Menurut mereka, semua instruksi memiliki kesulitan yang melekat terkait dengan itu (misalnya, perhitungan 2+2, dibandingkan memecahkan persamaan diferensial). Ini kesulitan yang melekat tidak boleh diubah oleh seorang instruktur.
Germane Cognitive Load adalah bahwa beban dikhususkan untuk konstruksi, pengolahan dan otomatisasi skema. Ini pertama kali dijelaskan oleh Sweller, van Merrienboer dan Paas pada tahun 1998. Sangat penting bagi desainer instruksional untuk "mengurangi extroneous cognitive load dan mengarahkan perhatian peserta didik untuk proses kognitif yang secara langsung relevan dengan pembangunan skema".
Extraneous cognitive load berhubungan dengan desain material belajar sehingga merupakan beban kognitif yang menjadi pusat perhatian desainer pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Extraneous cognitive load merupakan cara di mana informasi ini disajikan untuk peserta didik dan berada di bawah kendali desainer instruksional. Beban ini dapat dikaitkan dengan desain bahan pembelajaran, terutama ketika intrinsic load  tinggi (yaitu, ketika masalah sulit), maka bahan harus dirancang sehingga dapat mengurangi beban yang asing.

1.1.2   Memori dan Hasil Belajar

Masalah belajar tidak terlepas dari masalah memori.  Memori dan konsep belajar saling berkaitan erat karena menghasilkan keluaran yang berupa hasil belajar. Hasil belajar tersimpan dan dipelihara dalam memori agar kelak dapat digunakan kembali (Hulse, dkk., dalam Fatimah 2006). Memori mengacu pada penyimpanan informasi, mengakses informasi yang pernah diterima. Pada dasarnya memori mencakup proses encoding (penyandian), storage (penyimpanan), dan retrieval (memanggil kembali) (Ellis, 1978). Jadi memori berkaitan dengan penerimaan informasi, penyimpanan informasi, sampai pemanggilan kembali informasi yang disimpan. Salah satu model memori yang ada adalah model memori dari Atkinson dan Shiffrin (dalam Solso,  1988) yang membagi memori menjadi 3 tempat penyimpanan, yaitu sensory memory (memori sensori), short term memory (memori jangka pendek), dan long term memory (memori jangka panjang).
Ketiga macam memori tersebut saling berkaitan erat, informasi tertentu diteruskan kedalam memori jangka pendek (STM) dan sebagian informasi akan hilang, hingga akhirnya melalui seleksi informasi diteruskan kedalam memori jangka panjang dan yang tidak diteruskan akan dilupakan (Irwanto, dkk., 1994). Informasi yang disimpan dalam memori dalam jangka panjang (LTM) dapat berpindah kembali ke memori jangka pendek dan kelupaan dapat terjadi disetiap tahap model memori tersebut. Kapasitas untuk mengingat stimulus yang masuk secara visual, seperti gambar-gambar dan semacamnya, dengan kejelasan yang luar biasa dikenal sebagai photographic memory atau eidetic imagery. Baik dalam ingatan audio maupun visual, rangsangan-rangsangan yang masuk diproses secara asimetri di otak. Baddeley (1976, dalam Solso, 1998) menunjukkan bahwa telinga kiri yang diproses oleh belahan otak kanan, bersifat dominan terhadap stimulus nada-nada dan melodi musik, sedangkan telinga kanan yang diproses oleh belahan otak kiri, lebih peka dalam menangkap rangsangan-rangsangan seperti kata-kata angka dan konsonan. Kelupaan yang terjadi di STM berhubungan erat dengan faktor storage dan retrieval.
Informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang bersifat permanen, tetapi bukan berarti bahwa kelupaan tidak pernah terjadi. Kegagalan untuk mengingat informasi yang disimpan memungkinkan untuk terjadi karena tidak adanya petunjuk yang tepat atau efektif (Ellis, 1978). Tulvin dan Postka (dalam fatimah,., 2006) mengemukakan bahwa interferensi dapat dikurangi dengan cara memberikan petunjuk (retrievalcues) yang tepat. Petunjuk tersebut dapat berupa konteks, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa, tempat dan perasaan pada saat informasi tersebut. Kelupaan dapat pula diminimalkan dengan cara menggunakan mnemonic, yaitu strategi mengorganisasikan informasi secara visual atau verbal (Solso, 1998).


1.1.3   Working Memory

Para ahli kognitif telah banyak mengkaji peranan kemampuan pemrosesan informasi sederhana yang menjadi perantara atau variabel perbedaan individual dalam proses kognisi yang kompleks seperti pemahaman, penalaran dan pencapaian prestasi akademik. Proses belajar akademik pada dasarnya berlangsung pada sebagian besar aspek kognitif manusia. Unsur yang sangat berpengaruh adalah unsur memori dan unsur perhatian. Makin besar perhatian yang diberikan seseorang pada suatu materi maka materi itu akan tersimpan dalam sistem memorinya. Memori manusia terbagi atas memori jangka pendek dan memori jangka panjang.
Working memory memiliki sistem tersendiri untuk mengolah informasi visual dan informasi audio. Sehingga ada memori visual dan memori audio dalam sistem kognitif individu. Teori kognitif tentang working memory menyatakan bahwa berdasarkan prinsip modality, terutama dalam proses belajar dengan menggunakan multimedia, kata-kata yang digunakan perlu disajikan dalam bentuk narasi audio bukan secara visual berupa teks pada layar. Alasannya, dalam proses memori jangka pendek, presentasi bersifat audio lebih mudah diingat daripada presentasi visual. Penney (1989) menyatakan bahwa materi presentasi merupakan bauran dari modalitas audio dan visual dan menunjukkan bahwa kapasitas efektif dari working memory bisa ditingkatkan dengan menggunakan saluran visual dan audio. Hal ini juga harus didukung dengan contiguity dalam proses belajar yang menggunakan multimedia sebagai media instruksi, dimana kata dan gambar harus tersaji hampir bersamaan. Artinya tidak ada selisih waktu yang lama antara kata dan gambar. Selain itu, kata dan gambar tidak dalam tempat terpisah sehingga penyajian kata dan gambar ini bersifat contiguous, artinya terjadi secara serempak (Mayer dan Moreno dalam Fatimah, 2006).
Teori pengkodean ganda (dual coding) berasumsi bahwa manusia memiliki dua sistem pengolahan informasi yang berlainan: satu mewakili informasi verbal dan yang lain mewakili informasi visual (Solso dalam fatimah, 2006). Lebih lanjut, mengenai separated dual-code dan integrated dual-code yaitu Separated dual-code menunjukkan perbedaan yang jelas pada model penerimaan atau penyimpanan  informasi dalam memori berdasarkan informasi yang diberikan, dalam hal ini informasi visual dan informasi verbal. Informasi yang diberikan dalam bentuk kata-kata akan diterima dalam bentuk verbal, sedangkan informasi yang diterima dalam bentuk gambar akan diterima atau disimpan dalam bentuk visual. Berdasarkan teori Paivio penerima informasi akan mendapatkan gambaran yang lebih baik jika kedua bentuk informasi (verbal dan visual) diterima, karena dengan demikian penerima informasi akan dapat mempertemukan informasi yang sama dalam bentuk yang berbeda dalam memori. Sementara integrated dual-code menunjukkan bahwa informasi visual dan informasi verbal dapat diterima dalam memori sama dengan hubungan antar informasi verbal dan informasi visual.
Ada 3 proses yang berlangsung saat seseorang menerima 2 bentuk informasi (verbal dan visual), dalam waktu yang sama, yaitu: 1) membuat gambaran verbal serta kesesuaian dengan informasi verbal yang diterima; 2) membuat gambaran visual serta kesesuaian dengan informasi visual yang diterima; dan 3) membuat kesesuaian hubungan antara gambaran visual dengan gambaran verbal yang sudah diterima.
Metode IT (integrated text) meliputi adanya penciptaan hubungan isi informasi yang diterima dalam bentuk verbal dan visual. Metode ST (separated text) meliputi hubungan yang terciptakan oleh penerima informasi hanya berbentuk representational connection atau sebatas penerimaannya, tidak sampai pada isinya. Dengan demikiant teks dan gambar secara dekat ( IT) memberi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan teks dan gambar secara terpisah (ST), kedua metode (IT dan ST) menimbulkan adanya hubungan penerimaan yaitu penggambaran secara mental dari isi informasi visual dan penggambaran secara mental dari isi informasi verbal. Maka teks dan gambar secara dekat hasilnya lebih baik dibandingkan dengan teks dan gambar secara terpisah.

1.2  Prinsip-prinsip Media dalam Pembelajaran

Terdapat enam prinsip yang harus diperhatikan berkaitan dengan elemen media yang digunakan supaya sebuah pembelajaran berlangsung efektif.  Keenam prinsip menyangkut elemen media yang disebutkan oleh Clark merupakan dasar-dasar bagaimana mengembangkan media dalam pembelajaran. Pengembangan media yang dimaksud disini adalah menyangkut kombinasi teks, grafik, dengan suara untuk penyanpaian materi pembelajaran. Keenam prinsip itu adalah sebagai berikut :

1.2.1   Prinsip Multimedia

Menurut prinsip ini  orang dapat memahami lebih baik kata-kata dengan gambar daripada hanya dengan kata-kata.  Animasi yang ditampilkan dilayar, slide show dan narasi sebaiknya memasukkan teks lisan dan tulisan serta gambar diam atau bergerak . Menambahkan grafik kedalam teks dapat meningkatkan kegiatan belajar. Yang dimaksud dengan grafik disini adalah gambar diam (garis, sketsa, diagram, foto) dan gambar bergerak (animasi dan video). Grafik yang ditambahkan kedalam teks sebaiknya yang selaras dengan pesan yang disampaikan dalam teks. Sehingga prinsip multimedia berarti harus dapat mengkombinasikan berbagai media menjadi satukesatuan yang harmonis.


1.2.2   Prinsip Contiguity (kedekatan)

Menempatkan teks didekat grafik meningkatkan kegiatan belajar. Contiguity merujuk pada susunan teks dan grafik pada layar. Seringkali dalam susunan materi e-learning, grafik disimpan pada bagian atas atau bawah teks sehingga teks dan grafik tidak bisa dilihat dalam satu layar, atau teks dan grafik tidak dapat dilihat secara bersamaan. Ini merupakan pelanggaran yang umum terjadi terhadap prinsip contiguity, yang menyatakan sebaiknya grafik dan teks yang bersesuaian diletakan berdekatan.

1.2.3   Prinsip modality

Menjelaskan grafik dengan suara meningkatkan kegiatan belajar. Prinsip ini terutama berlaku untuk animasi atau visualisasi kompleks dalam suatu topik yang relatif kompleks dan belum dikenal oleh peserta didik.

1.2.4   Prinsip Redundancy (kelebihan)

Menjelaskan grafik dengan suara dan teks yang berlebihan dapat merusak kegiatan belajar. Banyak program e-learning yang menyajikan kata-kata dalam teks dan suara yang membaca teks. Banyak hasil riset yang mengindikasikan bahwa kegiatan belajar terganggu ketuka sebuah grafik dijelaskan melalui kombinasi teks dan narasi yang membaca teks.

1.2.5   Prinsip Coherence (kesesuaian)

Menggunakan visualisasi, teks, dan suara yang tidak berhubungan (sembarangan) dapat merusak kegiatan belajar. Dalam banyak website e-learning sering ditemukan penambahan-penambahan yang tidak perlu, misalnya penambahan games, music latar, dan ikon-ikon tokoh kartun terkenal. Penambahan-penambahan ini selain tidak meningkatkan kegiatan belajar, juga dapat merusak kegiatan belajar itu sendiri.





1.2.6   Prinsip Personalisasi

Menggunakan bentuk percakapan dan gaya-gaya pedagogis dapat meningkatkan kegiatan belajar. Sejumlah penelitian yang dirangkum oleh Byron Reeves dan Clifford dalam bukunya, The Media Equation, menunjukan bahwa seseorang memberikan respon terhadap komputer seperti ketika ia memberikan respon kepada orang lain.
Gunakan multimedia (kombinasi antara teks, gambar, grafik, audio, narasi, animasi, simulasi, video) untuk mengakomodir perbedaan modalitas belajar. Karena masing-masing individu belajar memiliki modalitas belajar yang berbeda.
Pemilihan media untuk dikembangkan menjadi multimedia  menyerupai dengan pemilihan media untuk pembelajaran dengan system tatap muka atau tradisional. Penyampain materi pembelajaran melalui multimedia harus disesuaikan dengan materi ajar dan peserta didik itu sendiri. Pengembangan multimedia untuk e-learning dimulai dengan melihat tujuan kegiatan belajar, yaitu apakah tujuan belajar dapat dicapai melalui kegiatan mendengarkan, melihat, atau melalui interaksi media.